Hari beberapa sekolah di wilayah Abiantubuh dan tempat lain di Kecamatan Sandubaya, sekolah dan madrasah melakukan penyuntikan vaksin Rubella kepada siswanya. Sebelum dilakukan penyuntikan tersebut, pihak sekolah meminta persetujuan kepada para orang tua. Hal ini dilakukan karena banyak orang tua yang tidak setuju anaknya disuntik vaksin. Isu yang beredar banyak anak yang sakit justru setelah disuntik vaksin Rubella.

Situs Hellosehat merilis, Rubella, atau biasa disebut campak jerman, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus rubella. Gejala rubella yang paling utama adalah demam ringan dan bintik-bintik merah di kulit. Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan RI 2016, ada sekitar 8.185 kasus campak Jerman di Indonesia pada tahun 2015. Rubella sering terjadi pada bayi dan anak yang belum atau tidak diimunisasi. Tidak ada pengobatan untuk penyakit campak dan rubella, tetapi penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin campak-rubella, alias vaksin MR.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang menolak anaknya diimunisasi karena takut akan risiko efek samping vaksin rubella yang katanya bisa menyebabkan kelumpuhan bahkan autism, salah satunya adalah Inaq Sahlan.

Inaq Sahkan salah seorang warga yang hari ini anaknya akan divaksin mengatakan, ia dimarahi suaminya jika mengizinkan anaknya divaksin.

Karena itulah kemudian, sekolah membuat surat pernyataan yang harus ditandatangani orang tua jika tidak setuju anaknya di vaksin

“ Saya ndak berani anak saya divaksin pak, suami saya marah, dia sudah SMS saya tadi” kata Inaq Sahlan yang anaknya masih duduk di sebuah sekolah swasta di wilayah Abiantubuh Sandubaya. Selain demand an lumpuh paska suntik Rubella, para orang tua juga dicekoki informasi bahwa vaksin itu berasal dari babi. Hal ini membuat pihak sekolah agak kerepotan untuk menjelaskan sekaligus meyakinkan bahwa semua itu sudah melalui persetujuan MUI dan program pemerintah.

Sampai saat berita ini dibuat, sudah banyak para orang tua yang akhirnya mau memvaksin anaknya, karena diberi penjelasan oleh para guru dan petugas kesehatan. (Shafwan EM)